R RUAYA Initiative
Riset

KEANEKARAGAMAN MANGROVE DAN TANTANGAN PENGELOLAANNYA DI RUPAT UTARA

13 November 2025
Miswadi
36 Pembaca
KEANEKARAGAMAN MANGROVE DAN TANTANGAN PENGELOLAANNYA DI RUPAT UTARA

Ekosistem mangrove di wilayah pesisir Indonesia menghadapi tekanan antropogenik yang mengancam keberlanjutannya. Kecamatan Rupat Utara memiliki keanekaragaman mangrove tinggi namun menghadapi ancaman serius dari aktivitas antropogenik. Penebangan berlebihan mengurangi tutupan hutan mangrove dan berdampak pada hilangnya fungsi ekologisnya sebagai pelindung pantai, habitat biota, serta penopang kehidupan masyarakat pesisir (Miswadi et al., 2017; Oktorini et al., 2022; Aslika & Siddiq, 2024). Konversi lahan yang memfragmentasi ekosistem mangrove akan menurunkan daya dukung lingkungan, yang mendorong timbulnya risiko jangka panjang terhadap keseimbangan ekologis dan ketahanan hidup masyarakat pesisir (Hasri et al., 2014; Hidayat & Rachmawatie, 2021; Suriadi et al., 2024). Pengembangan pariwisata di Rupat Utara masih cenderung berorientasi pada pemanfaatan potensi pantai dan keindahan alamnya secara konvensional, dan belum sepenuhnya berbasis ekowisata. Pengembangan pariwisata massal di wilayah pesisir yang rendah dalam memperhatikan daya dukung lingkungan justru berisiko menambah tekanan terhadap ekosistem pesisir (Khatun et al., 2023). Kondisi ini membutuhkan arah perlunya pengelolaan terintegrasi yang mensinergikan konservasi ekologis dengan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Desa Tanjung Punak dan Putri Sembilan merupakan dua dari delapan desa pesisir di Kecamatan Rupat Utara dengan persentase luas wilayah masing-masing 7,82% dan 10,17% dari luas wilayah kecamatan. Topografi wilayah ini umumnya dataran rendah yang datar, memiliki garis pantai yang landai dan panjang, dengan kondisi ombak yang cenderung tenang sehingga mangrove mampu tumbuh dengan baik di wilayah pesisir desa ini. Dari aspek demografi (BPS Kabupaten Bengkalis, 2024), kedua desa ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 3.061 jiwa, rasio jumlah penduduk laki-laki lebih besar dari jumlah penduduk perempuan, tingkat kepadatan penduduk diatas rata-rata penduduk kecamatan, dengan sebaran rumah tangga masing-masing 413 dan 520 KK, yang umumnya memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan petani.

Nelayan memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap sumber daya laut sebagai sumber ekonomi rumah tangga. Bahkan penduduk di kedua desa ini juga memiliki ketergantungan yang besar dari hasil laut sebagai sumber pangan keluarga. Produktivitas perikanan wilayah ini ditopang oleh keberadaan hutan mangrove, dimana kesuburan ekosistem mangrove menjaga ketersediaan stok ikan dan biota akuatik. Nadian et al. (2021) menyatakan bahwa hubungan ini didukung oleh fungsi ekologis ekosistem mangrove sebagai tempat feeding ground, spawning ground dan nursery ground bagi berbagai biota akuatik. Sejalan dengan itu, Supriharyono (2000) berpendapat bahwa 95% serasah mangrove masuk ke dalam lingkungan perairan yang mempengaruhi tingginya kandungan bahan organik, sehingga tingginya kandungan bahan organik di perairan kawasan mangrove (Bengen, 2002), memungkinkan sebagai tempat pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery ground), dan pembesaran atau mencari makan (feeding ground) dari berbagai jenis ikan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman jenis mangrove dan menganalisis isu pengelolaannya di Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Penelitian deskriptif ini menggunakan metode spot check dengan teknik purposive visual observation (Bengen, 2004) di lima stasiun pengamatan. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan (Hasanah, 2016) dan wawancara terstruktur (Rachmawati, 2007) dengan 30 responden. Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif (Winartha, 2006) menggunakan model interaktif Miles & Huberman (Miles et al., 2014) yang dimulai dengan proses reduksi data (Thalib, 2022), penyajian data (Sugiyono, 2019) dan menginterpretasikannya (Rijali, 2018).

Hasil penelitian mengidentifikasi 20 jenis mangrove yang terdiri dari 16 spesies mangrove sejati (Rhizophora apiculata, R. mucronata, Bruguiera parviflora, B. gymnorrhiza, Ceriops tagal, Scyphiphora hydrophyllacea, Excoecaria agallocha, Lumnitzera littorea, Sonneratia alba, S. caseolaris, Avicennia alba, A. marina, Xylocarpus granatum, Nypa fruticans, Acrostichum aureum, dan Acanthus ilicifolius) dan 4 spesies mangrove ikutan (Pandanus tectorius, Hibiscus tiliaceus, Pluchea indica, dan Scaevola taccada). Identifikasi ini merujuk pada panduan identifikasi mangrove di Indonesia (Noor et al., 2012).

Tiga isu utama pengelolaan mangrove Rupat Utara yang teridentifikasi meliputi: (1) eksploitasi kayu mangrove untuk industri arang dan konstruksi, (2) konversi lahan untuk tambak udang dan infrastruktur yang memfragmentasi ekosistem, dan (3) pengembangan pariwisata yang belum berbasis ekowisata. Tiga isu utama ini menimbulkan tekanan besar terhadap keberlanjutan ekosistem mangrove dan kesejahteraan masyarakat pesisir sehingga konsep strategis pengelolaan mangrove Rupat Utara perlu diarahkan pada pengelolaan terintegrasi yang mampu menyeimbangkan kepentingan ekologis, sosial, dan ekonomi.

Konsep Strategis Pengelolaan Mangrove Rupat Utara

Green economy adalah model pembangunan ekonomi yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan dengan meminimalkan risiko ekologis dan meningkatkan kesejahteraan sosial, berfokus pada menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan konservasi lingkungan (Al-Taai, 2021; Anwar, 2022; Drajat, 2023). Model ini menjadi basis bagi integrasi pengelolaan mangrove di Rupat Utara dalam bentuk pengembangan silvikultur lestari (Kusmana et al., 2008), tambak ramah lingkungan (Sualia et al., 2010; Sambu et al., 2022; Widowati et al., 2022) dan tata kelola lingkungan berbasis iklim mikro (Setyowati, 2008; Sapariyanto et al., 2016; Khairiyah, 2024), serta pariwisata berbasis ekoeduwisata (Setiyaningrum et al., 2020; Lilipory & Breemer, 2025).

Strategi ini akan mampu mewujudkan mangrove di Rupat Utara yang tidak hanya berfungsi sebagai benteng ekologis yang melindungi pesisir dari abrasi dan intrusi, tetapi juga sebagai basis ekonomi lokal melalui pemanfaatan yang terkendali, pengembangan pariwisata ramah lingkungan, dan pengelolaan jasa ekosistem lainnya yang berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah, masyarakat lokal, akademisi, dan sektor swasta menjadi kunci agar konservasi mangrove dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.


REFERENSI

Al-Taai, S.H.H. (2021). Green Economy and Sustainable Development. in IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science, 779, pp. 1-12.

Anwar, M, (2022). Green Economy sebagai Strategi Dalam Menangani Masalah Ekonomi dan Multilateral. Jurnal Pajak dan Keuangan Negara, 4 (1S) 343-356.

Aslika, N. & Sidiq, R.S.S. (2024). Suku Akit Dalam Pemanfaatan Hutan Mangrove Sungai Liong Desa Berancah Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis. Jurnal Sosial dan Humaniora, 2 (1), 238-242.

Bengen, D.G. (2002). Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut serta Prinsip Pengelolaannya. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB, Bogor.

Bengen, D.G. (2004). Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB, Bogor.

Badan Pusat Statistik [BPS] Kabupaten Bengkalis. (2024). Kecamatan Rupat Utara Dalam Angka Tahun 2024. BPS Kabupaten Bengkalis, Bengkalis.

Drajat, D.A. (2023). Green Economy Development and Implementation to Support Sustainable Development. In Proceeding International Conference on Economic Business Management, and Accounting (ICOEMA), pp. 349-358. Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, May 09, 2023.

Hasanah, H. (2016). Teknik-teknik Observasi: Sebuah Alternatif Metode Pengumpulan Data Kualitatif Ilmu-ilmu Sosial. Jurnal at-Taqaddum, 8 (1), 21-46.

Hasri, K., Basri, H. & Indra. (2014). Dampak Alih Fungsi Lahan terhadap Nilai Ekosistem Mangrove di Kecamatan Seruway Kabupaten Aceh Tamiang. Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan, 3 (1), 396-405.  

Hidayat, A. & Rachmawatie, D. (2021). Deforestasi Ekosistem Mangrove di Pulau Tanakeke, Sulawesi Selatan, Indonesia. J. Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 13 (3): 439-454.

Khairiyah, S.N.A. (2020) Pengaruh Ruang Terbuka Hijau Terhadap Kondisi Iklim Mikro diKota Kendari: Studi Literatur. Journal of Geographical Sciences and Education, 02 (1), 36-41.  

Khatun, A., Sukrana, B. & Jui, F.I. (2023). The Role and Impact of Mass Tourism: A Study on the Mass Tourist Spots at Dhaka, Sylhet and Cox’s Bazar, Bangladesh. Journal of Research in Environmental and Earth Sciences, 9 (1), 83-90.

Kusmana, C., Istomo, Wibowo, C., Budi, S.W.R., Siregar, I.Z., Tiryana, T. & Sukardjo, S. (2008). Manual Silvikultur Mangrove di Indonesia. Korea International Cooperation Agency (KOICA).

Lilipory, I. & Breemer, J. (2025). Strategi Pengembangan Pantai Dalam Mendukung Pelestarian Lingkungan Pesisir di Desa Tawiri Kecamatan Teluk Ambon Kota Ambon. Jurnal Simetrik, 15 (1), 1-8.  

Miles, M.B., Huberman, A.M. & Saldana, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. Third Edition. Los Angles: Sage Publications Inc. pp 341.  

Miswadi, Ramses & Jhonnerie, R. (2017). Pemanfaatan Kayu Mangrove oleh Masyarakat Suku Asli Sungai Liong Pulau Bengkalis. Dinamika Maritim, 6 (1), 35-39.

Nadian, G.R., Kurniawan & Febrianto, A. (2021). Struktur Komunitas Ikan di Ekosistem Mangrove di Perairan Dusun Tanjung Tedung Kabupaten Bangka Tengah. Akuatik: Jurnal Sumberdaya Perairan, 15 (1), 53-61.  

Noor, Y.R., Khazali, M. & Suryadiputra, I.N.N. (2012). Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Wetlands International – Indonesia Programme, Bogor.

Oktorini, Y., Prianto, E., Darlis, V.V., Jhonnerie, R., Rahmatdillah & Miswadi. (2022). Mangrove Riau: Sebaran dan Status Perubahan. Dinamika Lingkungan Indonesia, 9 (1), 50-57.

Rachmawati, I.N. (2007). Pengumpulan Data Dalam Penelitian Kualitatif: Wawancara. Jurnal Keperawatan Indonesia, 11 (1), 35-40.

Rijali, A. (2018). Analisis Data Kualitatif. Jurnal Alhadharah, 17 (33), 81-95.  

Sambu, A.H., Anwar, A., Tamrin & Akmaluddin. (2022). Model Budidaya Udang Vanamae Yang Ramah Lingkungan di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawasi Selatan, Indonesia. Jurnal Ilmiah Ecosystem, 22 (2), 257 – 266.

Sapariyanto, Yuwono, S.B. & Riniarti, M. (2016). Kajian Iklim Mikro di Bawah Tegakan Ruang Terbuka Hijau Universitas Lampung. Jurnal Sylva Lestari, 4 (3), 114—123.

Setiyaningrum, A.F., Harini, R. & Wirasanti, N. (2020). Pengelolaan Edu-Wisata Mangrove Berbasis Masyarakat: Studi Kasus di Desa Gedangan, Purwodadi, Purworejo, Jawa Tengah, Indonesia. Majalah Gegrafi Indonesia, 34 (1), 11-18.

Setyowati, D.L. (2008). Iklim Mikro dan Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau di Kota Semarang. Jurnal Manusia dan Lingkungan, 15 (3), 125-140.

Sualia, I., Priyanto, E.B. & Suryadiputra, I.N.N. (2010). Panduan Pengelolaan Budidaya Tambak Ramah Lingkungan di Daerah Mangrove. Wetlands International – Indonesia Programme. Bogor.

Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta, Bandung.

Supriharyono. (2000). Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Suriadi, L.M., Denya, N.P., Shabrina, Q.A., Yuliana, R., Agustina, G., Kuspraningrum, E. & Asufie, K.N. (2024). Perlindungan Sumber Daya Genetik Ekosistem Mangrove Untuk Konservasi Lingkungan dan Keseimbangan Ekosistem. Jurnal Analisis Hukum, 7 (2), 234-253.

Thalib, M.A. (2022). Pelatihan Analisis Data Model Miles dan Huberman untuk Riset Akuntansi Budaya. Madani: Jurnal Pengabdian Ilmiah, 5 (1), 23-33.

Widowati, H., Sutanto, A., Sulistiani, W.S. & Dewi, A.F. (2022). Menumbuhkan Budaya Mengelola Tambak Udang Ramah Lingkungan Melalui Pemberdayaan Kecerdasan Kearifan Lokal Masyarakat Pasir Sakti. dalam Prosiding SNPPM-4 (Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat), Hal. 212-223, Universitas Muhammadiyah Metro, 8 Agustus 2022.

Winartha, I.M. (2006). Metode Penelitian Sosial Ekonomi. Andi Offset, Yogyakarta.


Bagikan tulisan ini:

Reader dialogue

Comments

0 contributions

Be the first to add a thoughtful response.